In you, as in each human being, there is a dimension of consciousness far deeper than thought. Love, joy, creative expansion, and lasting inner peace can only come into your life through that unconditioned dimension of consciousness
Mengakui, Diakui dan Pengakuan
Membuat Duplikat dan Merumahkan Tuhan
Agama, Pilihan ataukah Warisan?
Yang tahu hanya kamu sendiri !
Dari Kesadaran-personal hingga Kesadaran-universal
Kesadaran-personal, bentuk kesadaran yang menegaskan bahwa kita ini ada sebagai sesosok pribadi yang tegas berbeda dengan yang lainnya; ini didukung kuat oleh kesadaran-ragawi serta pola-pandang kasat-indria. Sementara, kesadaran-ragawi ini sendiri tidak bisa hadir tanpa dukungan kerja dari segenap organ indria —lima indria sensorik dan lima indria motorik. Oleh karenanya, kesadaran-personal ini bisa juga disebut kesadaran-indriawi. Penganut bentuk kesadaran ini sangat banyak jumlahnya di dunia. Bahkan, hampir semua diantara kita ini masih dengan kuat menganut bentuk kesadaran ini.
Sementara kesadaran-sosial lebih merupakan kesadaran-mental. Ia berkembang dalam interaksi-interaksi sosial —yang pada hakekatnya adalah berinteraksi secara mental— yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk kesadaran inilah yang memberitahu kita kalau manusia lain juga sama manusianya dengan kita, yang menegaskan kepada kita bahwa manusia lain juga punya kebutuhan-kebutuhan yang serupa, punya prilaku dan pola-pikir yang serupa, dan banyak kesamaan-kesamaan lainnya. Dan oleh karenanya pula kita butuh membentuk suatu masyarakat yang menjamin adanya jalinan sosial, kegotong-royongan dan keharmonisan. Kesadaran-sosial yang ada pada diri ini sangat mengidam-idamkan keharmonisan dan kedamaian. Tindakan altruistis hanya bisa kita temukan pada mereka yang sudah sepenuhnya menjejakkan kakinya di wilayah kesadaran ini.
Kesadaran-universal hanya mungkin hadir pada mereka yang sudah berkembang kesadaran-spiritualnya. Bentuk kesadaran ini sudah tidak memisah-misahkan lagi antara manusia yang satu dengan manusia lainnya, antara spesies satu dengan spesies lainnya. Apa yang terlihat hanyalah makhluk-hidup, hidup dan bentuk-bentuk kehidupan itu sendiri, yang mau-tak-mau mesti harmonis dengan alam dimana mereka hidup. Bagi kesadaran ini, kematian jasad sudah kehilangan daya terornya; bahkan sudah kehilangan maknanya. Itu tak-ubahnya berganti pakaian.
Kebanyakan dari kita masih berkubang pada bentuk kesadaran pertama —kesadaran-personal. Makanya persoalan ego menjadi persoalan yang merepotkan semua orang. Hanya mereka yang benar-benar menyadari keberadaannya sebagai abdi Tuhan —melalui mengabdi kepada sesama dan kepada prinsip-prinsip kemanusiaan itu sendiri— sajalah yang mampu mulai bergerak meninggalkan bentuk kesadaran-personal, yang sudah mulai menanggalkan ego beserta segenap implikasi egoistisnya hingga batas-batas tertentu, guna memasuki kesadaran-sosial —bentuk kesadaran yang bersendikan pada sikap altruistik yang sarat dengan kerja tanpa-pamerih.
Sungguh tidak banyak yang berhasil memasuki jenjang kesadaran-universal yang bertumpu pada mekarnya kesadaran-spiritual ini; ia mengatasi dan melingkupi kedua bentuk kesadaran sebelumnya. Disinilah kian tampak nyata betapa kekuatan spiritual jauh melampaui kekuatan fisikal atau material manapun.
Seseorang yang belum berkembang kesadaran-sosialnya —dimana etika-moral mencirikannya dengan kuat, nyaris tak mungkin langsung masuk apalagi melangkahkan kakinya di wilayah kesadaran ini. Kepatuhan terhadap kaidah-kaidah etika-moral inilah yang ‘membebaskannya’ dari belenggu kesadaran-personal —yang kuatnya diwarnai oleh egoisme itu. Tak seorangpun berhak mengklaim sebagai dan pantas menyandang sebutan ‘seorang universalis’ sebelum menanggalkan egoismenya. Memaksakan diri, sama artinya dengan menguatkan egoisme.
Apa itu Hukum Identifikasi?
Identifikasi-diri, yang kemudian bertindak sebagai subjek atau ‘si aku’, memang bisa kepada berbagai macam hal yang berkaitan dengan diri kita, kepunyaan kita, kemampuan atau keakhlian kita, bidang profesi yang kita geluti, peran atau atribut yang kita kenakan, atau yang sejenisnya, hingga angan-angan, tujuan hidup dan cita-cita kita. Bisa bermacam-macam.
Kemudian, setelah kita nobatkan dia sebagai diri kita melalui identifikasi-diri, dialah yang menentukan susah-senang kita, bahagia-sengsara kita. Saya ajak Anda untuk menyebutnya dengan ‘Hukum Identifikasi’ atau ‘Hukum Penyamaan’, dimana hukum ini kurang-lebih berbunyi: “Kepada apa atau siapa kita mengidentifikasikan-diri, maka itulah atau dialah kita”. Ini sangat mirip dengan —apa yang kita kenal dengan— sugesti-diri, afirmasi diri atau bahkan hipnosis-diri.
Namun, betapa baikpun itu, betapa menyenangkanpun itu, betapa berhasilpun kita mengecoh diri ini untuk menjadi, berperan dan bertindak sebagai yang bukan dirinya sendiri, tak akan pernah mempertemukan kita dengan jati-diri kita; apalagi dengan Sang Diri-Jati.
Menatap Dunia dan Kehidupan dengan cara lain
Keselarasan antara Pemikiran, Ucapan dan Tindakan
Mengkondisikan ‘suasana hati’?
Apa yang selama ini kita sebut dengan ‘arif’?
Kita boleh jadi mengharapkan terjadi perubahan, dari yang kita anggap buruk menjadi baik, dari yang kita anggap jelek menjadi bagus, atau yang sejenisnya; dimana kita seringkali tidak bisa menerima begitu saja semua bentuk perubahan yang sebaliknya. Kita memang menginginkan perubahan, tapi kita hanya menginginkan perubahan yang mengarah pada perbaikan atupun penyempurnaan. Dan, kitapun tidak akan segan-segan menggelar usaha serius ke arah itu. Bila perlu, kita mengerahkan segenap waktu yang tersedia, sumber-daya dan sumber-dana yang ada demi tejadinya perubahan itu.
Begitulah umumnya kita menyikapi perubahan. Kita tidak selalu menerima atau mengharap terjadi perubahan, pun sebaliknya, tidak selalu menolak atau menghindarinya. Menyikapi perubahan dengan cara seperti ini, mungkin kita anggap ‘cerdik’, atau bahkan ‘arif’. Tapi, mari kita cermati sekarang apa sebetulnya yang selama ini kita anggap sebagai ‘cerdik’ dan ‘arif’ itu.
Yang kita sebut ‘cerdik’ itu ternyata menganut pola untung-rugi, pola mujur-malang, pola kalah-menang, demi kepentingan egoistis kita. Dan menerapkan pola ini, terbukti sangat mudah membuat kita terperosok ke dalam tindakan ‘licik’. Itulah kecerdikan buat kita selama ini.
Lalu, apakah ‘licik’ bisa disebut ‘arif’?
‘Licik’ jelas bukan suatu tindakan ‘bijak’. Kebijaksanaan tidak mengandung motif egoistis. Makanya, dalam kebijaksanaan sajalah mungkin temukan keadilan dan kemakmuran bagi semua. Kearifan —seperti anggapan kita selama ini, yang dekat dengan ‘kelicikan’ itu— bukanlah kebijaksanaan. Arif belum tentu bijak; walau pada seseorang yang bijak, selalu kita temukan bentuk-bentuk tindakan arif.
Hidup tanpa cita-cita?
Umumnya kita mengidam-idamkan profesi atau pekerjaan yang kita sukai, atau yang kita nyana memberi kesenangan, bahkan bisa mendatangkan kebahagiaan. Itulah yang kemudian kita tetapkan sebagai cita-cita kita. Demi pencapaiannya, kitapun tak segan-segan mengerahkan segenap daya dan dana yang ada, memanfaatkan setiap waktu dan kesempatan yang ada, demi mencapainya.
Pada saat yang sama, apa yang sebetulnya juga terjadi?
Disadari atau tidak, kita sedang membangun ‘dunia kita sendiri’ —sebuah dunia yang kita nyana penuh kebahagiaan. Dan karena kita sibuk terus membangun atau terus memproyeksikan cita-cita kita itu di ‘dunia nyata’, kita malah tak sempat menikmati setiap momen dari proses pembangunannya, dan merasa kalau cita-cita kita belum tercapai. Padahal, didalamnya sudah terkandung ‘serpihan-serpihannya’, yang merupakan segmen-segmen pembentuk ‘dunia kita’.
Ketika, suatu saat —karena kita sudah semakin tua, sudah semakin lelah, semangat kita semakin mengendor— kita merasa perlu beristirahat, kita masih dihadapkan fakta kalau ‘dunia kita’ itu belum terwujud —seperti apa yang dicita-citakan. Dan ... kitapun kecewa. Padahal daya yang kini tersisa sudah sedemikian menyusutnya, dimana sudah tak mungkin lagi menyelesaikan pembangunannya. Sejauh apa yang kita bangun adalah ‘dunia pribadi’, walau kita punya banyak anak-cucu —yang sebetulnya bisa meneruskan pembangunannya, apa yang kemudian mereka bangun, tetap saja bukan ‘dunia kita’ itu. Terlebih lagi mengingat fakta bahwa, anak-anak dan cucu-cucu kitapun punya ‘dunia cita-citanya’ masing-masing. ‘Dunia kita’ bukanlah ‘dunia mereka’. Alih-alih melanjutkan pembangunan ‘dunia kita’, mereka semua sibuk membangun ‘dunia mereka’ masing-masing.
Nah .... demikianlah sebuah skenario yang gagal, dari sedemikian banyak kemungkinan skenario gagal dan sukses lainnya. Menampilkannya demikian, bisa melahirkan rasa pesimistis; setidak-tidaknya bisa mengundang pemikiran: “Kalau apapun yang kita perbuat untuk itu belum tentu berhasil, lalu kenapa susah-susah?”; atau mengundang pemikiran: “Kalau memang begitu, mengapa mesti bercita-cita begini atau begitu. Nikmati saja ‘yang ada’ setiap saat” ... atau pemikiran-pemikiran sejenis lainnya.
Pemikiran yang disampaikan belakangan sebetulnya bukan pemikiran pesimistis pun optimistis. Ia lebih merupakan pemikiran realistis. Ia tidak terorientasi ke masa-depan, melainkan pada ‘yang ada’ dari saat-ke-saat, dari momen-ke-momen. Namun sayangnya, tak banyak ‘yang berani’ seperti itu; budaya lingkungan sosial kita —seolah-olah— mengharuskan kita untuk punya cita-cita, punya suatu angan-angan yang diharapkan akan tercapai di masa-depan. Kita merasa tanpa semangat-juang bila tak memperjuangkan cita-cita kita.
Kita tidak terbiasa hidup tanpa cita-cita; padahal ini merupakan sebentuk kehidupan yang penuh keindahan dan kebahagiaan, setiap saat. Bagusnya ... ia adalah sebuah alternatif yang selalu ditawarkan oleh kehidupan ini.
Kepada siapa sebetulnya kita Mengabdi?
Empat Penghalang
Bercermin Pada Hati Nurani
Cahaya Bagi Diri Sendiri
Dasar Tak Tahu Diri !!!
Itu Fitnah !!!
Pandai-pandailah menghargai yang ada !

“Rubahlah pemikiran-pemikiran Anda, bila Anda hendak merubah keadaan-keadaan Anda. Sejauh hanya Andalah yang bertanggung-jawab atas bentuk-bentuk pemikiran Anda sendiri, maka hanya Andalah yang bisa merubahnya. Hasrat Anda untuk merubahnya muncul manakala Anda menyadari bahwa setiap pemikiran mencipta sesuai sifatnya sendiri. Ingat bahwa hukum ini bekerja setiap waktu, dan bahwa Anda selalu berdemontrasi menurut jenis pemikiran-pemikiran yang Anda pertontonkan sebagai kebiasaan. Oleh karenanya, sejak saat ini biasakanlah hanya memikirkan pemikiran-pemikiran yang akan membawakan Anda kesehatan dan kebahagiaan.” ( Sri Paramahansa Yogananda )
Kita umumnya kurang pandai dalam menghargai yang ada, sebaliknya cenderung sibuk mengidam-idamkan yang belum ada. Kekurang-pandaian kita inilah seringkali terekspresikan dalam sikap uring-uringan. Ungkapan seperti “rumput tetangga selalu tampak lebih hijau”, juga merujuk langsung pada fenomena mental ini.
Kendati kecenderungan mengidam-idamkan yang belum ada ini telah menjadikan manusia giat untuk berkreasi, berinovasi, yang sudah barang tentu bermanfaat; tetapi, ia juga telah membuat banyak orang merasa susah, sedih, merasa sengsara, secara tidak proporsional. Ia menghadirkan sejenis kekosongan dalam hati yang merajuk dan mendesak untuk diisi. Dan, dalam suasana batin serupa ini, kenteraman tak akan pernah hadir.
Uring-uringan tidaklah tipikal dan hanya para remaja saja; gejala ini juga diidap oleh banyak orang-dewasa, dalam format dan intensitas berbeda-beda. Padahal, sesungguhnya alam telah menyediakan segala kebutuhan-hidup kita semua secukupnya. Hanya karena keserakahanlah, karena sedemikian banyaknya keinginanlah, kita selalu merasa kekurangan, dan jadi uring-uringan.
Suatu ketika seorang ayah yang hidup sederhana berkata kepada putra-putrinya: “Tak ada lagi yang ayah inginkan di dunia ini, kecuali kebahagiaan kalian” Beliau memang tampak tenteram dan bahagia ketika itu. Namun bersamaan dengan berjalannya waktu, perubahan demi perubahanpun terjadi. Menurut ‘standar’ kebahagiaan yang beliau tetapkan sendiri itu, ternyata salah seorang anaknya tidak bahagia. Beliau jadi murung dan uring-uringan lagi.
Seringkali kedapatan kalau kita semena-mena dalam menetapkan ‘standar’ kebahagiaan. Bahkan, kitapun cenderung terus-menerus meningkatkan ‘standar’ itu. Kenapa? Apa yang sebetulnya terjadi pada diri ini?
Kita sebetulnya tidak mengetahui, tidak memahami apa sebenarnya kebahagiaan itu. Kita umumnya mengukur derajat kebahagiaan orang lain dan juga diri sendiri, hanya dari tampakan luar saja, dari sesuatu yang kasat-indria saja. Yang lebih konyol lagi, kita cenderung mengukurnya dari jumlah harta-benda yang berhasil ditimbun. Sungguh menyedihkan.
Kurang pandai menghargai yang ada, juga telah menjadikan kita tidak pernah merasa puas dan berkecukupan sehingga kurang pandai bersyukur. Bahkan, yang adapun belum benar-benar dinikmati, tapi sudah uring-uringan menginginkan yang lainnya lagi. Padahal, kepandaian ini berperan amat penting didalam menghadirkan ketenteraman dan kedamaian-hati. Hanya dalam hati yang damailah bisa terbit kebahagiaan.
Bilamana Anda tidak bisa berdamai dengan diri Anda sendiri, dengan siapa Anda akan mungkin berdamai? Kedamaian diawali pada batin kita sendiri. Dan kitalah yang sepenuhnya bertanggung-jawab atasnya. Hanya setelah itulah ia terpancarkan keluar, dan akan dirasakan juga oleh orang-orang di sekeliling Anda.
Mereka yang pandai menghargai dan memanfaatkan yang ada, yang bisa merasa puas dan berkecukupan dengan apa adanya, berhati damai dan bahagia. Yoga Vashistha, kitab yogashastra yang tertua di muka bumi ini, menyebut-nyebut shanti dan santosha sebagai penjaga dua pintu-gerbang Kemokshaan, Kemahardikaan. Dimana, bilamana seseorang mengenal dan berteman baik dengan salahsatu saja daripadanya, maka ia akan diperkenalkan juga pada yang lainnya, yang memungkinkan kita akrab dengan semua penjaga gerbang.
Bilamana kita bisa berbahagia sekarang dan di sini, bisa merasa bebas sekarang dan di sini, mengapa mesti menanti untuk menikmatinya nanti dan disana? Mari jauhi sikap uring-uringan itu, dan belajar menghargai dan menikmati yang ada...sekarang...di sini.
Semoga Kebahagiaan menyertai Anda selalu!
















