Mengakui, Diakui dan Pengakuan



Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki, dan itu mungkin tidak akan pernah cukup.
Tetapi ... tetaplah berikan yang terbaik.
( Mother Theresa )

Seseorang, bisa saja mengaku sebagai begini atau begitu dengan maksud agar diakui oleh khalayak, sehingga melapangkan jalannya dalam mewujudkan niat-niat terselubungnya. Di dunia bisnis manapun, yang seperti ini lumrah adanya. Pada sisi lain, membentuk citra-diri sedemikian rupa dengan harapan bisa mempengaruhi pandangan publik terhadap dirinya, terhadap perusahaan ataupun barang dan jasa yang ditawarkannya, telah melahirkan beraneka perusahaan jasa periklanan besar maupun kecil.
Mengakui agar diakui memang merupakan fenomena sosial yang amat sangat lumrah dan telah dipraktekkan secara luas bukan saja oleh kalangan politikus dan pebisnis, namun di berbagai bidang dalam kehidupan sosial kita.
Mari kita sedikit mundur. Apa sesungguhnya yang ada di balik itu? Mengapa seseorang merasa butuh pengakuan? Kalau bukan lantaran masih kuatnya “rasa keakuan” padanya, masih pentingkah pengakuan apapun dari pihak manapun baginya? Atau, bukankah kebutuhan akan pengakuan itu mencirikan kian membengkaknya si ego?
Memberi pengakuan atas kebaradaan seseorang, memang wajib kita lakukan. Namun, itu otomatis tidaklah berarti orang-orang juga wajib mengakui keberadaan kita. Terlepas dari apakah kita diakui atau tidak, kita selalu wajib mengakui keberadaan siapapun, bahkan apapun. Pengakuan atas eksistensinya merupakan kebutuhan mental setiap makhluk hidup.
Disadari atau tidak, apapun yang kita lakukan di luar sana, kebanyakan bermotifkan perolehan pengakuan. Sepantasnyalah ini kita pahami dan sadari baik-baik.

Membuat Duplikat dan Merumahkan Tuhan


Suatu ketika sekelompok orang melihat Tuhan sedang sibuk dengan pekerjaan-Nya. Salah seorang diantaranya bertanya kepada Tuhan, “Apa yang sedang Engkau lakukan?”

“Aku sedang membuat duplikat diriKu, seorang manusia,” jawab Tuhan, yang kemudian balik bertanya, “Apa yang sedang kalian lakukan disini?”

Orang itu menjawab, “Ooo... kami sedang membentuk Tuhan ke dalam rupa kami.”

***

Itulah tragedi sepanjang masa. Kita begitu mudah menjadi ‘tidak serupa Allah’ dan mulai mendekonstruksi Tuhan ke dalam rupa manusia. Milyaran uang dipakai untuk mengkonstruksi bangunan-bangunan megah untuk merumahkan Tuhan, yang dipergunakan untuk perbuatan-perbuatan yang tak beriman. Tempat-tempat ibadah kita telah menjadi pusat-pusat pelestarian perilaku yang mana kefanatikan dan idolatry (mengagungkan seseorang atau kitab tertentu sebagai satu-satunya sumber dan jalan kebenaran), kecanduan, dan nafsu (amarah, curiga, iri, benci, menghakimi, dll.)

Dan ironisnya hal-hal itu diterima atau dianggap wajar. Kita lupa bahwa Tuhan ada dimana-mana (omnipresent). Dia berada di dalam kita semua dan tempat yang paling disukai adalah hati yang baik-hati, tulus dan welas-asih.

Manusia berevolusi oleh alam sebagai spesies yang memiliki pikiran sendiri untuk memilih jalan-hidupnya, untuk menjadi serupa atau tidak serupa dengan Allah. Namun kita telah mengerdilkan Tuhan.

Kekuatan mental yang seyogyanya adalah anugerah, terbukti menjadi kutukan terbesar yang menggerogoti Tuhan sendiri. Tuhan menginginkan kita untuk menjalani kehidupan yang lepas dari ikatan-ikatan. Namun kita justru telah melepaskan diri kita dari Tuhan. Melakukan kebaikan adalah menjadi seperti Tuhan. Tetapi kita telah menjadi tidak serupa Tuhan dengan begitu banyaknya pilihan-pilihan keliru yang telah kita perbuat.

Kita harus berhenti dan merenung: Sedang kemana kita berjalan?
Kita menjarah bumi bagi kebutuhan-kebutuhan kita yang tak pernah dapat terpuaskan dan menghancurkan jiwa kita demi ego, harga-diri dan kebanggaan.

Untuk mencapai Tuhan, kita harus berprilaku seperti Tuhan. Kita harus selalu mencoba berbuat baik dan melakukannya terus-menerus tanpa membuang waktu sedikitpun.

Agama, Pilihan ataukah Warisan?



‘Agama’ harus menyusupi setiap tindakan kita.
‘Agama’ yang dimaksud disini tidak berarti sektarianisme.
Ini berarti kepercayaan terhadap bekerjanya sebentuk
pemerintahan moral universal
yang daya-aturnya melingkupi seluruh semesta.
Hal ini tidak jadi kurang nyata,
hanya karena ia tak terlihat.
‘Agama’ ini melampaui Hindu, Islam, Kristen, dll.
Dan ini juga tidak menggantikan mereka;
namun menyelaraskan dan memberi mereka realitas.

~ Mahatma Gandhi.

Setelah untuk pertama kalinya mendengar atau mengenal sesuatu, setelah menilai atau mempertimbangkannya sesuai dengan selera dan kemampuan kita saat itu, ada dua kemungkinan: langsung menerimanya, atau langsung menolaknya. Itulah yang umumnya kita lakukan.

Padahal, kitapun tahu kalau kemampuan kita di dalam menilai dan mempertimbangkan tidaklah tetap seumur-hidup. Artinya, sesuatu yang tadinya kita terima, bisa saja kita tolak pada suatu waktu tertentu; atau sebaliknya, yang tadinya kita tolak, malah baru belakangan kita lihat kebaikan dan kecocokannya dengan diri kita, sehingga kita rasa layak untuk diterima.

Kalau sesuatu tadi berupa barang, suatu metode, atau bahkan seorang calon pasangan-hidup yang tadinya ditolak, sepanjang ia masih tersedia (available), kita masih mungkin menerimanya kembali. Namun bila itu adalah sebuah ajaran, atau katakanlah, sebuah agama, kendati ia sendiri masih selalu tersedia buat kita, boleh jadi kitalah yang justru tidak siap untuk menyebrang, untuk berganti anutan. Setidak-tidaknya, kita akan menerima reaksi keras dari komunitas sosial-relijius asal kita yang tak rela melepaskan dan membiarkan kita menyebrang begitu saja. Komunitas yang baru itupun belum tentu menerima kita secara benar-benar terbuka, karena masih menyangsikan kesetiaan kita. “Siapa yang menjamin kalau ia tidak akan menyebrang lagi ke yang lainnya dan mengkhianati kita?”, mungkin saja mereka berpikir demikian. Kita mau-tak-mau menjadi terlibat di dalam kepelikan dilema sosial-psikologis yang tidak perlu, sejauh dasar keterlibatan kita dalam komunitas itu adalah ajaran, adalah agama, dan bukan masalah sosial-organisatorisnya.

Makanya, di kalangan masyarakat relijius seperti Indonesia ini, tidaklah sedemikian mudahnya seorang berganti-ganti agama atau keyakinan, layaknya orang berganti-ganti pakaian atau mobil. Mungkin masih jauh lebih mudah berganti-ganti pasangan-hidup, yang memang diijinkan oleh sementara institusi agama.

Tetapi persoalannya adalah, umat beragama di Indonesia memeluk dan menganut agama tertentu lantaran terlahir dari orangtua yang memeluk dan menganut agama itu. Jadi itu sejenis warisan. Berbeda dengan masyarakat di negara-negara sekuler, seperti Amerika Serikat misalnya. Agama yang sebagian besar dari kita anut sekarang ini adalah ‘barang’ warisan dari orangtua kita, atau bahkan leluhur kita. Sebagai akibatnya, bagi kebanyakan kita, masalah beragama bukanlah masalah memilih dan menetapkan suatu pilihan, melainkan lebih pada menerima sesuatu untuk diwarisi, terlepas dari apakah yang diwarisi itu diterima atau ditolak oleh pewarisnya. Sehingga, bagi kebanyakan dari kita, secara konkrit, tidak ada persoalan menerima atau menolak suatu ajaran atau agama tertentu.

Memeluk dan menganut suatu agama tertentu sebagai warisan dengan sebagai pilihan, tentu berbeda di dalam penyikapannya. Ketertarikan untuk lebih mendalami ajaran agama yang diwarisi umumnya lebih kecil, walaupun seseorang begitu kuat keyakinannya terhadapnya. Artinya, agama disini lebih terposisikan sebagai budaya-hidup, atau bahkan adat-kebiasaan yang tak perlu dikritisi lagi.

Akibatnya sudah dapat dipastikan, pemahaman dari para pemeluk atau penganut ‘agama warisan’ terhadapnya menjadi sangat terbatas. Buruknya lagi adalah, selain sangat terbatas dalam cakupannya, itupun hanya sebatas kulit-luarnya saja, hanya sebatas permukaan yang kasat-indria saja. Kerangka-dasar ajaran —apalagi dasar-dasar filosofisnya— menjadi sesuatu yang ada di luar jangkauan. Tak jarang kalau mereka bahkan tak-faham betul akan apa yang selama ini mereka lakukan, yang hanya mereka ‘sangka’ sebagai kegiatan relijius hanya lantaran banyak orang yang melakukannya. Sangat boleh jadi kalau yang selama ini mereka sangka sebagai kegiatan relijius sesungguhnya hanyalah adat-kebiasaan saja.

Bila demikian kejadiannya, persoalan faktual mereka sesungguhnya adalah: bagaimana menjadikan apa yang diwarisi juga sebagai pilihannya. Dan, seperti yang telah kita singgung di awal tulisan ini, masalah memilih bukan saja masalah kemampuan menilai dan mempertimbangkan—yang bisa saja diperoleh dari pembelajaran secara sekuler dan pengalaman-pengalaman terkait dengan itu, namun ia juga masalah selera. Apa artinya ini?

Ini berarti, bagi yang berkepentingan, hanya memberikan pengajaran-pengajaran dengan maksud untuk memperdalam pemahaman sehingga keyakinan yang sudah ada menjadi lebih kokoh, belumlah mencukupi. Masih diperlukan pengemasan-pengemasan baru —sedemikian rupa— disana-sini, agar bisa seluas-luasnya menyentuh selera mereka. Ini, tentu bukan merupakan suatu tugas sederhana yang mudah. Para pengemasnya dituntut punya kepekaan yang cukup terhadap trend selera yang sedang berkembang, disamping punya kreativitas serta seporsi keluwesan dan kepiawaian di dalam menseleksi dan memodifikasi model-model kemasan baru secara inovatif. Ini benar-benar butuh sejenis think-tank team yang juga bertindak selaku task-force. Team ini, nantinya bukan saja akan meningkatkan sraddha dan bhakti dari para penganut yang telah ada, tapi juga bertindak sebagai sejenis missionaris guna menyebarluaskan ajaran dan merekrut para peminat dan penganut baru. Ia akan berfungsi ganda—melakukan preservasi dan juga invasi.

Semoga ini ada manfaatnya.
Semoga Cahaya Agung-Nya senantiasa menerangi setiap gerak dan langkah kita.
Semoga kedamaian dan kebahagiaan menghuni kalbu setiap insan.

Yang tahu hanya kamu sendiri !



Alkisah di suatu negeri burung, tinggallah bermacam-macam keluarga burung. Mulai dari yang kecil hingga yang besar. Mulai dari yang bersuara lembut hingga yang bersuara menggelegar. Mereka tinggal di suatu pulau nun jauh di balik bukit pegunungan. Sebenarnya selain jenis burung masih ada hewan lain yang hidup di sana. Namun sesuai namanya negeri burung, yang berkuasa dari kelompok burung.

Semua jenis burung ganas, seperti, burung pemakan bangkai, burung kondor, burung elang dan rajawali adalah para penjaga yang bertugas melindungi dan menjaga keselamatan penghuni negeri burung.

Burung-burung kecil bersuara merdu, bertugas sebagai penghibur. Kicau mereka selalu terdengar sepanjang hari, selaras dengan desau angin dan gesekan daun. Burung-burung berbulu warna-warni, pemberi keindahan. Mereka bertugas bekeliling negri membentangkan sayapnya, agar warna-warni bulunya terlihat semua penghuni. Keindahan warnanya menimbulkan kegembiraan. Dan rasa gembira bisa menular bagai virus, sehingga semua penghuni merasa senang.

Pada suatu ketika, seekor induk elang tengah mengerami telur-telurnya.

Setiap pagi elang jantan datang membawa makanan untuk induk elang. Akhirnya, di satu pagi musim dingin telur-telur mulai menetas. Ada 3 anak elang yang nampak kuat berdiri. Dua anak elang hanya mampu mengeluarkan kepalanya dari cangkang telur harus berakhir dalam paruh sang ayah.

Dengan tangkas, elang jantan mengoyak cangkang telur lalu mematuk-matuk calon anak yang tak jadi. Perlahan-lahan sang induk memberikan potongan-potongan tubuh anaknya ke dalam paruh mungil anak-anak elang.

Kejam...? Ini hanya masalah kepraktisan. Untuk apa terbang dan mencari makan jauh-jauh jika ada daging bangkai di dalam sarang. Sebagai hewan, elang hanya mempunyai naluri dan akal tanpa nurani. Inilah yang membedakan manusia dan hewan.

Waktu berjalan terus, hari berganti hari. Anak-anak elang yang tadinya berbentuk jelek karena tak berbulu, kini mulai menampakkan keasliannya. Bulu-bulu halus mulai menutupi daging di tubuh masing-masing. Kaki kecil anak-anak elang sudah mampu berdiri tegak. Walau kedua sayapnya belum tumbuh sempurna.

Induk elang dan elang jantan, bergantian menjaga sarang. Memastikan tak ada ular yang mengincar anak-anak elang dan memastikan anak-anak elang tak jatuh dari sarang yang berada di ketinggian pohon.

Suatu pagi, saat induk elang akan mencari makan dan bergantian dengan elang jantan menjaga sarang. Salah seekor anak elang bertanya: “Kapankah aku bisa terbang seperti ayah dan ibu?”

Induk elang dan elang jantan tersenyum, bertukar pandang lalu elang jantan berkata: “Waktunya akan tiba, anakku. Jadi sebelum waktu itu tiba, makanlah yang banyak dan pastikan tubuhmu sehat serta kuat”. Usai sang elang jantan berkata, induk elang merentangkan sayapnya lalu mengepakkan kuat-kuat.

Hanya dalam hitungan yang cepat, induk elang tampak menjauhi sarang. Terlihat bagai sebilah papan berawarna coklat melayang di awan. Anak-anak elang, masuk di bawah sayap elang jantan. Mencari kehangatan kasih sang ayah.

Waktu berjalan terus, musim telah berganti dari musim dingin ke musim semi. Seluruh permukaan pulau mulai menampakan warna-warni dedaunan. Bahkan sinar mentari memberi sentuhan warna yang indah. Anak-anak elang pun sudah semakin besar dan sayapnya mulai ditumbuhi bulu-bulu kasar.

Suatu ketika seeor anak elang berdiri di tepi sarang, ketika ada angin kencang, kakinya tak kuat mencengkram tepi sarang sehingga ia meluncur ke bawah. Induk elang langsung merentangkan sayang dan mendekati sang anak seraya berkata: “Rentangkan dan kepakan sayapmu kuat-kuat!”

Tapi rasa takut dan panik menguasai si anak elang karenanya ia tak mendengar apa yang dikatakan ibunya. Elang jantan menukik cepat dari jauh dan membiarkan sayapnya terentang tepat sebelum si anak mendarat di tanah. Sayap elang jantan menjadi alas pendaratan darurat si anaknya.

Si anak elang yang masih diliputi rasa panik dan takut tak mampu bergerak. Tubuhnya bergetar hebat. Induk elang, dengan kasih memeluk sang anak. Menyelipkannya di bawah sayapnya dan memberikan kehangatan. Sesudah si anak tenang dan tak gemetar, induk elang dan elang jantan membawa si anak kembali ke sarang.

Peristiwa itu menimbulkan trauma pada si anak elang. Jangankan berlatih terbang dengan merentangkan dan mengepakkan sayap. Berdiri di tepi sarang saja ia sangat takut. Kedua saudaranya sudah mulai terbang dalam jarak pendek. Hal pertama yang diajarkan induk dan elang dan elang jantan adalah berusaha agar tidak mendarat keras di dataran.

Lama berselang setelah melihat kedua saudaranya berlatih, si elang yang pernah jatuh bertanya pada ibunya:

“Adakah jaminan aku tidak akan jatuh lagi?”

“Selama aku dan ayahmu ada, kamilah jaminanmu!” jawab si induk elang dengan penuh kasih.

“Tapi aku takut!' ujar si anak.

“Kami tahu, karenanya kami tak memaksa.” jawab si induk elang lagi.

“Lalu apa yang harus kulakukan agar aku berani?” tanya si anak.

“Untuk berani, kamu harus menghilangkan rasa takut!”

“Bagaimana caranya?”

“Percayailah kami!” ujar elang jantan yang tiba-tiba sudah berada di tepi sarang.

Si anak diam dan hanya memandang jauh ke tengah lautan. Tiba-tiba si anak elang bertanya lagi; “Menurut ibu dan ayah, apakah aku mampu terbang ke seberang lautan?”

Dengan tenang si elang jantan berkata: “Anakku kalau kau tak pernah merentangkan dan mengepakkan sayapmu, kami tidak pernah tahu, apakah kamu mampu atau tidak. Karena yang tahu hanya kamu sendiri!”

Lalu si induk elang menambahkan: “Mulailah dari sekarang, karena terbang kecilmu akan menjadi awal perubahan hidupmu. Semua perubahan dimulai dari terbang awal, anakku!”

Si anak elang diam tertegun, memandang takjub pada induk elang dan elang jantan. Kini ia sadar, tak ada yang tahu kemampuan dirinya selain dirinya sendiri. Kedua orang tuanya hanya memberikan jaminan bahwa mereka ada dan selalu ada, jika si anak memerlukan. Didorong rasa bahagia akan cinta-kasih orang tuanya, si elang kecil berjanji akan berlatih dan mencoba.

Ketika akhirnya ia menggantikan elang jantan menjadi pemimpin keselamatan para penghuni negeri burung, maka tahulah ia, bahwa kesuksesan yang diraihnya adalah di mulai saat tekad terbangun untuk melangkah. Sukses itu tak pernah ada kalau hanya sebatas tekad. Tapi tekad itu harus diwujudkan dengan tindakan nyata, walau dimulai dari langkah yang kecil.

Mulailah rentangkan dan kepakkan sayap kemampuanmu, maka dunia ada digenggamanmu !

Dari Kesadaran-personal hingga Kesadaran-universal


Kesadaran-personal, bentuk kesadaran yang menegaskan bahwa kita ini ada sebagai sesosok pribadi yang tegas berbeda dengan yang lainnya; ini didukung kuat oleh kesadaran-ragawi serta pola-pandang kasat-indria. Sementara, kesadaran-ragawi ini sendiri tidak bisa hadir tanpa dukungan kerja dari segenap organ indria —lima indria sensorik dan lima indria motorik. Oleh karenanya, kesadaran-personal ini bisa juga disebut kesadaran-indriawi. Penganut bentuk kesadaran ini sangat banyak jumlahnya di dunia. Bahkan, hampir semua diantara kita ini masih dengan kuat menganut bentuk kesadaran ini.

Sementara kesadaran-sosial lebih merupakan kesadaran-mental. Ia berkembang dalam interaksi-interaksi sosial —yang pada hakekatnya adalah berinteraksi secara mental— yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk kesadaran inilah yang memberitahu kita kalau manusia lain juga sama manusianya dengan kita, yang menegaskan kepada kita bahwa manusia lain juga punya kebutuhan-kebutuhan yang serupa, punya prilaku dan pola-pikir yang serupa, dan banyak kesamaan-kesamaan lainnya. Dan oleh karenanya pula kita butuh membentuk suatu masyarakat yang menjamin adanya jalinan sosial, kegotong-royongan dan keharmonisan. Kesadaran-sosial yang ada pada diri ini sangat mengidam-idamkan keharmonisan dan kedamaian. Tindakan altruistis hanya bisa kita temukan pada mereka yang sudah sepenuhnya menjejakkan kakinya di wilayah kesadaran ini.

Kesadaran-universal hanya mungkin hadir pada mereka yang sudah berkembang kesadaran-spiritualnya. Bentuk kesadaran ini sudah tidak memisah-misahkan lagi antara manusia yang satu dengan manusia lainnya, antara spesies satu dengan spesies lainnya. Apa yang terlihat hanyalah makhluk-hidup, hidup dan bentuk-bentuk kehidupan itu sendiri, yang mau-tak-mau mesti harmonis dengan alam dimana mereka hidup. Bagi kesadaran ini, kematian jasad sudah kehilangan daya terornya; bahkan sudah kehilangan maknanya. Itu tak-ubahnya berganti pakaian. 

Kebanyakan dari kita masih berkubang pada bentuk kesadaran pertama —kesadaran-personal. Makanya persoalan ego menjadi persoalan yang merepotkan semua orang. Hanya mereka yang benar-benar menyadari keberadaannya sebagai abdi Tuhan —melalui mengabdi kepada sesama dan kepada prinsip-prinsip kemanusiaan itu sendiri— sajalah yang mampu mulai bergerak meninggalkan bentuk kesadaran-personal, yang sudah mulai menanggalkan ego beserta segenap implikasi egoistisnya hingga batas-batas tertentu, guna memasuki kesadaran-sosial —bentuk kesadaran yang bersendikan pada sikap altruistik yang sarat dengan kerja tanpa-pamerih.
Sungguh tidak banyak yang berhasil memasuki jenjang kesadaran-universal yang bertumpu pada mekarnya kesadaran-spiritual ini; ia mengatasi dan melingkupi kedua bentuk kesadaran sebelumnya. Disinilah kian tampak nyata betapa kekuatan spiritual jauh melampaui kekuatan fisikal atau material manapun. 

Seseorang yang belum berkembang kesadaran-sosialnya —dimana etika-moral mencirikannya dengan kuat, nyaris tak mungkin langsung masuk apalagi melangkahkan kakinya di wilayah kesadaran ini. Kepatuhan terhadap kaidah-kaidah etika-moral inilah yang ‘membebaskannya’ dari belenggu kesadaran-personal —yang kuatnya diwarnai oleh egoisme itu. Tak seorangpun berhak mengklaim sebagai dan pantas menyandang sebutan ‘seorang universalis’ sebelum menanggalkan egoismenya. Memaksakan diri, sama artinya dengan menguatkan egoisme.

Apa itu Hukum Identifikasi?



Identifikasi-diri, yang kemudian bertindak sebagai subjek atau ‘si aku’, memang bisa kepada berbagai macam hal yang berkaitan dengan diri kita, kepunyaan kita, kemampuan atau keakhlian kita, bidang profesi yang kita geluti, peran atau atribut yang kita kenakan, atau yang sejenisnya, hingga angan-angan, tujuan hidup dan cita-cita kita. Bisa bermacam-macam.
Kemudian, setelah kita nobatkan dia sebagai diri kita melalui identifikasi-diri, dialah yang menentukan susah-senang kita, bahagia-sengsara kita. Saya ajak Anda untuk menyebutnya dengan ‘Hukum Identifikasi’ atau ‘Hukum Penyamaan’, dimana hukum ini kurang-lebih berbunyi: “Kepada apa atau siapa kita mengidentifikasikan-diri, maka itulah atau dialah kita”. Ini sangat mirip dengan —apa yang kita kenal dengan— sugesti-diri, afirmasi diri atau bahkan hipnosis-diri.

Namun, betapa baikpun itu, betapa menyenangkanpun itu, betapa berhasilpun kita mengecoh diri ini untuk menjadi, berperan dan bertindak sebagai yang bukan dirinya sendiri, tak akan pernah mempertemukan kita dengan jati-diri kita; apalagi dengan Sang Diri-Jati.

Menatap Dunia dan Kehidupan dengan cara lain


Menatap dunia ini —berikut segenap hiruk-pikuknya— dari ‘suatu jarak tertentu’ bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh setiap orang. Apalagi menatapnya dari ‘suatu jarak tertentu dengan ketinggian tertentu di atasnya’. Bahkan, mungkin frasa ini sendiri merupakan suatu istilah yang sama-sekali baru bagi kita —sejauh yang dimaksud bukanlah dalam artian fisikal.

Seseorang, bisa saja tampak terlibat langsung di dunia, langsung berada di tengah hiruk-pikuknya kehidupan duniawi, namun secara mental-emosional sama-sekali tiada tersentuh oleh semua itu, karena ia sebetulnya hanya menatap semua dari ‘suatu jarak tertentu dengan ketinggian tertentu di atasnya’. Pemposisian-diri seperti ini, sungguh bukan sesuatu yang mudah, oleh karenanya tidak lumrah. Jelas tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang.


Namun, karena sesuatu dan lain hal seseorang bisa melakukan itu, ia akan melihat dunia dan kehidupan ini sama-sekali lain; berbeda dengan perspektif banyak orang sehingga iapun akan menyikapinya dan menjalani kehidupannya ini dengan ‘cara yang lain’. Cara lain disini tidak harus menjadikannya ekstrim, secara kasat-indria berlawanan dengan apa yang dilakukan orang-orang kebanyakan. Seperti telah disinggung sebelumnya, ia bisa saja masih tampak terlibat langsung dan aktif di dunia seperti yang lainnya, namun pada saat yang bersamaan sama-sekali tiada tersentuh oleh semua itu. Karena sebetulnya ia berada di ‘alam lain’.

Nah ... bagaimana Anda menatap dunia dan kehidupan yang sedang Anda jalani ?

Keselarasan antara Pemikiran, Ucapan dan Tindakan


Saya sering mengatakan pada istri saya kalau ‘jangankan tindakan fisikal ataupun ucapan, berpikir salahpun kita harus tanggung akibatnya’. Dan bagusnya, ia tampaknya mengerti; walaupun, seperti juga saya, belum mampu sepenuhnya untuk selalu berpikir benar.

Yang sering amati didalam kehidupan kita sehari-hari, adalah bahwasanya, kita sangat cenderung menyangka kalau kita ‘telah’ berpikir dengan benar, tanpa benar-benar memeriksa dsn mencermati kerja dari si pikiran —yang nyaris tak mau terlepas dari perasaan. Ketika si pikiran berkata: “Benar juga apa yang dikatakannya ....” misalnya, si perasaan segera menyahuti: “Sok tahu lu....”. Ketika si pikiran berkata: “Sebaiknya saya membereskan pekerjaan rumah saya dulu sebelum berangkat”; si perasaan menimpalinya: “Kita bisa kehilangan kesempatan untuk duduk di kursi depan”. Akhirnya ... alih-alih berpikir benar, kita malah terjebak keraguan, lantaran selalu berpikir berdasarkan pola ‘untung-rugi’ dan ‘kalah-menang’.

Pikiran punya sifat aktif, agresif dan sejenisnya; dan perasaan bersifat lembam, malas, mau enaknya saja, atau sejenisnya. Seperti apapun kerja duet pikiran-perasaan, tak akan pernah benar-benar membuahkan kearifan. Karena intelijensia-murni-lah yang arif. Hanya intelijensia-murni-lah yang membantu kita guna bisa berpikir benar, sehingga mungkin punya pandangan yang benar akan segala sesuatunya.


Padahal, kalau saja kita bisa menjadikan apapun yang sedang kita pikirkan juga hal yang sedang kita bicarakan dan kerjakan, kita punya kemungkinan yang sangat besar untuk menggapai keberhasilan, juga ketenteraman hati. Karena didalamnya bisa dipastikan terjadi keselarasan antara pemikiran, ucapan dan tindakan.

Mengkondisikan ‘suasana hati’?



Cahaya ini bukan untuk dinyalakan oleh orang lain ...
Tak seorangpun di dunia dan di sorga
yang bisa menyalakan itu,
selain Anda sendiri,
dalam pemahaman dan meditasi Anda sendiri.  ( J. Krishnamurti )

Bisa dirasakan langsung kalau kontak-kontak indriawi dengan lingkungan, dengan objek-objek indriawi itu sendiri, berpengaruh lasung terhadap emosi perasaan, terhadap bentuk-bentuk perasaan yang mendominasi isi benak ini, terhadap suasana-mental secara keseluruhan bukan? Secara naluriah, kita menyukai suasana lingkungan yang memanjakan fisik maupun mental kita. Naluri atau insting ini erat sekali kaitannya suasana-mental, terutama emosi. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa ‘emosi adalah reaksi dari jasad fisikal ini kepada tataran mental ini’.

Namun tidak demikian halnya dengan rasio. Rasio memang bisa bereaksi terhadap apa yang dialami oleh tataran fisikal ini, namun tidak selalu demikian; ia juga bisa sekedar merespons tanpa bereaksi sehingga tidak menghasilkan penyikapan atau tindakan instingtif. Kalau emosi punya pola tindakannya sendiri, rasiopun demikian. Rasio bisa berkata, ‘Tak perlu hiraukan gonggongan anjing itu, ia tak akan menggigit.’, walaupun emosi cenderung menggerakkan kaki ini untuk lari saja.

Yang cenderung emosional, cenderung memenangkan impuls-impuls emosinya dan bertindak instingtif. Dan ini, juga biasanya otomatis saja. Tanpa sepenuhnya disadarinya. Di tataran mental yang dominasi gelora emosi, pertimbangan, nalar atau akal-sehat tak mendapat kesempatan untuk ikut berkiprah, sehingga ia seakan-akan tak ada sama-sekali. Dan konyolnya adalah, tak sedikit orang yang menyangka kalau bertindak dalam dan digerakkan oleh kondisi mental serupa itu sebagai —apa yang mereka sebut sebagai— ‘mengikuti suara hati’.

Impuls-impuls emosi dan rasa sentimental atau bentuk-bentuk perasaan memang seringkali dikelirukan oleh banyak orang sebagai ‘suara hati’ atau ‘kata hati’. “Mood” misalnya, yang adalah ‘suasana mental’ —yang dipengaruhi secara kuat oleh kerja emosi atau perasaan— bahkan oleh sebuah kamus Inggris – Indonesia yang banyak digunakan orang diterjemahkan sebagai ‘suasana hati’.

Memang benar, bisa dirasakan langsung, kalau memang ada ‘suasana mental’ yang kondusif bagi kejernihan, yang memungkinkan —bukan saja nalar, tapi bahkan— intuisi bekerja. Namun ‘suasana mental’ seperti ini tidak semata-mata terbentuk oleh pengkondisi-pengkondisi eksternal —seperti suasana lingkungan sekitar, kontak-kontak indriawi maupun yang lainnya, namun kondisi internalnya sendirilah yang justru besar kontribusinya. Oleh karenanya, mengkondisikan ‘suasana hati’ —kalaupun ia memang bisa dikondisikan— lebih merupakan tindakan diam, mengkondisikan suasana internal. Dan, inilah sebentuk laku meditasi.

Apa yang selama ini kita sebut dengan ‘arif’?



Kita boleh jadi mengharapkan terjadi perubahan, dari yang kita anggap buruk menjadi baik, dari yang kita anggap jelek menjadi bagus, atau yang sejenisnya; dimana kita seringkali tidak bisa menerima begitu saja semua bentuk perubahan yang sebaliknya. Kita memang menginginkan perubahan, tapi kita hanya menginginkan perubahan yang mengarah pada perbaikan atupun penyempurnaan. Dan, kitapun tidak akan segan-segan menggelar usaha serius ke arah itu. Bila perlu, kita mengerahkan segenap waktu yang tersedia, sumber-daya dan sumber-dana yang ada demi tejadinya  perubahan itu.

Begitulah umumnya kita menyikapi perubahan. Kita tidak selalu menerima atau mengharap terjadi perubahan, pun sebaliknya, tidak selalu menolak atau menghindarinya. Menyikapi perubahan dengan cara seperti ini, mungkin kita anggap ‘cerdik’, atau bahkan ‘arif’. Tapi, mari kita cermati sekarang apa sebetulnya yang selama ini kita anggap sebagai ‘cerdik’ dan ‘arif’ itu.

Yang kita sebut ‘cerdik’ itu ternyata menganut pola untung-rugi, pola mujur-malang, pola kalah-menang, demi kepentingan egoistis kita. Dan menerapkan pola ini, terbukti sangat mudah membuat kita terperosok ke dalam tindakan ‘licik’. Itulah kecerdikan buat kita selama ini.
Lalu, apakah ‘licik’ bisa disebut ‘arif’? 

‘Licik’ jelas bukan suatu tindakan ‘bijak’. Kebijaksanaan tidak mengandung motif egoistis. Makanya, dalam kebijaksanaan sajalah mungkin temukan keadilan dan kemakmuran bagi semua. Kearifan —seperti anggapan kita selama ini, yang dekat dengan ‘kelicikan’ itu— bukanlah kebijaksanaan. Arif belum tentu bijak; walau pada seseorang yang bijak, selalu kita temukan bentuk-bentuk tindakan arif.

Orang Dungu

 
Orang dungu yang menyadari kebodohannya,
sesungguhnya adalah orang yang bijaksana.
Si dungu yang menganggap dirinya bijaksana,
sesungguhnya orang yang benar-benar dungu.

~Dhammapada: V.63.

Hidup tanpa cita-cita?


Umumnya kita mengidam-idamkan profesi atau pekerjaan yang kita sukai, atau yang kita nyana memberi kesenangan, bahkan bisa mendatangkan kebahagiaan. Itulah yang kemudian kita tetapkan sebagai cita-cita kita. Demi pencapaiannya, kitapun tak segan-segan mengerahkan segenap daya dan dana yang ada, memanfaatkan setiap waktu dan kesempatan yang ada, demi mencapainya.

Pada saat yang sama, apa yang sebetulnya juga terjadi?
Disadari atau tidak, kita sedang membangun ‘dunia kita sendiri’ —sebuah dunia yang kita nyana penuh kebahagiaan. Dan karena kita sibuk terus membangun atau terus memproyeksikan cita-cita kita itu di ‘dunia nyata’, kita malah tak sempat menikmati setiap momen dari proses pembangunannya, dan merasa kalau cita-cita kita belum tercapai. Padahal, didalamnya sudah terkandung ‘serpihan-serpihannya’, yang merupakan segmen-segmen pembentuk ‘dunia kita’.

Ketika, suatu saat —karena kita sudah semakin tua, sudah semakin lelah, semangat kita semakin mengendor— kita merasa perlu beristirahat, kita masih dihadapkan fakta kalau ‘dunia kita’ itu belum terwujud —seperti apa yang dicita-citakan. Dan ... kitapun kecewa. Padahal daya yang kini tersisa sudah sedemikian menyusutnya, dimana sudah tak mungkin lagi menyelesaikan pembangunannya. Sejauh apa yang kita bangun adalah ‘dunia pribadi’, walau kita punya banyak anak-cucu —yang sebetulnya bisa meneruskan pembangunannya, apa yang kemudian mereka bangun, tetap saja bukan ‘dunia kita’ itu. Terlebih lagi mengingat fakta bahwa, anak-anak dan cucu-cucu kitapun punya ‘dunia cita-citanya’ masing-masing. ‘Dunia kita’ bukanlah ‘dunia mereka’. Alih-alih melanjutkan pembangunan ‘dunia kita’, mereka semua sibuk membangun ‘dunia mereka’ masing-masing.

Nah .... demikianlah sebuah skenario yang gagal, dari sedemikian banyak kemungkinan skenario gagal dan sukses lainnya. Menampilkannya demikian, bisa melahirkan rasa pesimistis; setidak-tidaknya bisa mengundang pemikiran: “Kalau apapun yang kita perbuat untuk itu belum tentu berhasil, lalu kenapa susah-susah?”; atau mengundang pemikiran: “Kalau memang begitu, mengapa mesti bercita-cita begini atau begitu. Nikmati saja ‘yang ada’ setiap saat” ... atau pemikiran-pemikiran sejenis lainnya.

Pemikiran yang disampaikan belakangan sebetulnya bukan pemikiran pesimistis pun optimistis. Ia lebih merupakan pemikiran realistis. Ia tidak terorientasi ke masa-depan, melainkan pada ‘yang ada’ dari saat-ke-saat, dari momen-ke-momen. Namun sayangnya, tak banyak ‘yang berani’ seperti itu; budaya lingkungan sosial kita —seolah-olah— mengharuskan kita untuk punya cita-cita, punya suatu angan-angan yang diharapkan akan tercapai di masa-depan. Kita merasa tanpa semangat-juang bila tak memperjuangkan cita-cita kita.
Kita tidak terbiasa hidup tanpa cita-cita; padahal ini merupakan sebentuk kehidupan yang penuh keindahan dan kebahagiaan, setiap saat. Bagusnya ... ia adalah sebuah alternatif yang selalu ditawarkan oleh kehidupan ini.

Kepada siapa sebetulnya kita Mengabdi?




Through accustoming your mind
to this sense of universal altruism,
you develop a feeling of responsibility for others:
the wish to help them actively overcome their problems.   ~  Dalai Lama.



Ketika seseorang telah memutuskan untuk menjadi seorang abdi, maka ia telah menanggalkan semua urusan pribadinya dimana segenap urusan yang dikerjakannya adalah urusan ‘junjungan’-nya. Bagi seorang abdi, ia sendiri tidak ada; ia telah menyerahkan dirinya seutuhnya kepada ‘junjungan’-nya itu. Baginya, yang ada hanyalah ‘junjungan’-nya. Tak ada yang lain. Itulah sesungguhnya makna abdi dan pengabdian itu sendiri. 

Jadi, masalah mengabdi sesunggguhnya adalah masalah panggilan-hidup, sejenis sumpah-batin. Bukan sekedar pilihan profesi, seperti memilih untuk menjadi pegawai negri misalnya, walaupun para pengabdi itu bisa saja orang-orang yang sangat profesional di bidangnya masing-masing dan dengan sepenuh-hati mendedikasikan seluruh hidupnya di bidang itu.
Seorang ilmuwan sejati misalnya, apakah ia tergabung di dalam suatu institusi akademis atau tidak, adalah seorang abdi ilmu pengetahuan. Ia akan dengan mengabdikan seluruh hidupnya kepada dunia ilmu pengetahuan. Kalaupun pengabdiannya itu kemudian menghasilkan sesuatu yang prestisius, sehingga mendapatkan sejenis penghargaan tertentu di bidangnya, itu bukanlah tujuan dari pengabdiannya. Ia mengabdi karena kecintaannya kepada ilmu pengetahuan.

Tampak jelas adanya kecintaan dan dedikasi dalam pengabdian, juga ada rasa keterpanggilan mendalam yang tak bisa ditolak, dan malah akan menimbulkan rasa bersalah kalau panggilan itu tidak dipenuhi; di dalamnya juga ada penyerahan diri seutuhnya —yang tentu disertai dengan ketulusan, ketanpa-pamerihan, altruisme. Singkatnya, rasa pengabdian adalah rasa yang luhur dan mulia. Disadari atau tidak, disengaja atau tidak, setiap orang mengabdi pada ‘sesuatu’, setiap orang punya ‘junjungan’-nya masing-masing. 

Nah ... sekarang mari kita tanyai diri kita masing-masing. Apakah kita berkualitas sebagai seorang pengabdi atau tidak? Apakah kita punya kualitas-kualitas luhur itu atau tidak? Kalau punya, kepada siapa atau apa kita sesungguhnya mengabdikan diri selama ini? Siapa atau apa yang kita jadikan sebagai ‘junjungan’? Apakah harta-benda, atau ambisi, kesenangan ataukah kemasyuran —yang berarti pada diri sendiri; ataukah kita mengabdi pada profesi atau keluarga, anak-cucu atau keturunan, atau pada masyarakat, pada bangsa dan negara, pada dunia, pada umat manusia, pada agama atau dharma yang dianut, ataukah kepada para leluhur, kepada para Dewa-dewi, ataukah malah langsung hanya kepada Tuhan? Kepada apa atau siapa kita mengabdi? 

Kita perlu mempertanyakan ini, karena kepada ‘junjungan’ itulah semua pengabdian ini dipersembahkan, juga dipertanggung-jawabkan.

Empat Penghalang


Disebutkan bahwa ada empat paradigma mental yang menghalangi seseorang untuk benar-benar masuk ke jalan spiritual dan yang menghambat langkah-langkahnya setelah masuk di jalan ini. Paradigma yang satu berhubungan erat dengan yang lainnya sedemikian rupa, dimana kemunculan yang satu akan diikuti juga atau hadir bersamaan dengan yang lainnya.

Yang pertama adalah pola-pandang kasat-indria. Yang menganut paradigma ini tidak akan pernah benar-benar masuk dan melangkah di jalan keramat ini, karena akan selalu, lagi dan lagi, berpaling dan berbalik pada hal-hal yang bisa dipersepsi secara indriawi. Bagi mereka, sesuatu yang nyata adalah sesuatu yang bisa mereka persepsi lewat indria-indrianya. Padahal, dunia spiritual adalah dunia yang —bukan saja melampaui tataran fisikal indriawi namun bahkan— melampaui tataran mental-psikologis.

Yang kedua, paradigma mengarahkan pandangan ke luar. Mengarahkan pandangan ke luar dan ke luar merupakan kebiasaan kita, yang erat kaitannya dengan pola-pandang kasat-indria. Kebiasaan ini telah kita biasakan entah sejak kapan. Mungkin sejak hadir makhluk yang disebut manusia di planet bumi ini, paradigma ini sudah kita anut. Dan sebagai konsekuensinya, kitapun akan selalu mencari pemenuhan apapun —termasuk untuk hal-hal yang bersifat spiritual— di luar sana.

Yang ketiga adalah paradigma pertanggung-jawaban ke luar, yang juga berkaitan-erat dengan yang sebelumnya. Sejalan dengan kebiasaan yang selalu mengarahkan pandangan ke luar, kepada objek-objek indriawi dan orang-orang, kitapun akan cenderung mempertanggung-jawabkan segala sesuatunya —termasuk hal-hal yang bersifat spiritual— ke luar. Kita merasa berhasil kalau mendapat pujian atau penghargaan dari luar, dari orang lain, kendati sebetulnya tidak ada kemajuan yang berarti yang layak dipuji atau dihargai daripadanya.

Nah....ketiganya itu akan sangat kentara pada mereka yang punya kecenderungan ‘show-off’ atau suka-pamer. Oleh karenanyalah, paradigma yang keempat ini kita sebut sebagai paradigma ‘show-off’ atau paradigma suka-pamer. Padahal, sebagai sesuatu yang benar-benar halus, dalam dan tinggi, spiritualitas seseorang akan terlihat dan terasakan —tentunya oleh yang mampu melihat dan merasakannya— tanpa perlu dipamerkan, dipertontonkan, dipertunjukkan atau didemonstrasikan. Ia terpancar dengan sendirinya, dan keberadaannya akan bisa dirasakan bahkan oleh awam sekalipun. Lagian, kecuali memang ‘ada udang di balik batu’, kemampuan spiritual atau siddhi bukanlah sesuatu yang buat dipamerkan. Banyak penekun —yang cukup maju malah— tersandung dan jatuh tersungkur oleh paradigma ini. Popularitas, sanjungan, puja-puji dan pengelu-eluan publik, seringkali begitu melambungkan.... sehingga sedemikian memikatnya bagi kebanyakan dari kita..

Bercermin Pada Hati Nurani



“Bercermin pada Hati-nurani” merupakan ungkapan yang sangat indah untuk diucapkan pun didengar bukan? Ketika kita mengucapkannya, kita serasa bak seorang bijak; dan yang mendengarkanpun boleh jadi menyangka kita demikian. Akan tetapi, sadarkah kita akan betapa tingginya makna dari ungkapan itu?
Pada sisi lain, saya masih menyangsikan kalau yang mengucapkan itu tahu dan memang pernah bertemu dan bercermin pada hati-nuraninya. Sebab, apa yang umumnya disebut-sebut dan disangka banyak orang sebagai “hati-nurani” seringkali hanyalah bentuk perasaan atau letupan atau impuls emosi sesaatnya saja.
Dalam Wedhatama —sebuah masterpice dari Kanjeng Mangkunegoro IV—dengan lugas beliau mengatakan: “Hati-nurani merupakan tempat yang suci, dimana Tuhan bertahta”. Makanya saya katakan betapa tingginya makna dari ungkapan “Bercermin pada Hati-nurani” itu. Jelas tak sembarang orang bisa bercermin atau melongok “Tahta Tuhan” sesuka hatinya.
Hanya ketika batin seseorang sedemikian murninya, ia mungkin dipertemukan dengan hati-nurani-nya, kendati hanya sesaat.Bukan sebelumnya atau sesudahnya. Kalau sekedar bentuk-bentuk perasaan —seperti rasa suka dan tidak suka dan yang sejenisnya— atau letupan emosi —seperti rasa cinta, atau belas-kasihan dan yang sejenisnya—adalah hati-nurani, maka sudah sejak dahulu dunia ini aman dan damai, sudah sejak dulu sorga pindah ke muka bumi ini. Padahal, untuk boleh sekedar melongok ke “Tahta Tuhan” ini saja, kita sudah diharuskan mampu mendiamkan gelora perasaan dan gejolak pikiran —yang bukan main sulitnya itu. Apalagi untuk benar-benar bercermin.
Untuk bisa benar-benar bercermin pada hati-nurani, kita diharuskan punya kadar “kualitas keilahian” yang cukup tinggi. Tapi, tahukah Anda apa “kualitas keilahian” itu? Apakah Anda sangka itu adalah sejenis kesaktian, kanuragan, kemampuan supra-natural, kemampuan adi-kodrati atau yang sejenisnya? Bukan; bukan itu.
“Kualitas keilahian” hanya hadir pada batin yang telah sedemikian murninya. Makanya, hanya jika batin seseorang telah sedemikian murninya, ia mungkin dipertemukan dengan hati-nuraninya.

Cahaya Bagi Diri Sendiri



Bilamana Anda adalah cahaya bagi diri Anda sendiri,
maka Anda adalah cahaya bagi dunia,
karena dunia adalah Anda,
dan Anda adalah dunia. ~  J. Krishnamurti.

‘Menjadi cahaya bagi diri sendiri’ sungguh frasa yang teramat indah —baik buat didengar maupun untuk sekedar diperdengarkan. Yang menjadi cahaya bagi dirinya sendiri, sesuluhbagi dirinya sendiri, tak lagi butuh cahaya lain dalam menjalani kehidupannya —baik kehidupan jasmaniahnya maupun rokhaniahnya. Oleh karena, ia akan melenggang bebas, sementara tetap dalam terang, tetap dalam jalurnya. Bisakah Anda bayangkan seperti apa ini?

Sementara, kita tahu, agama-agama dan ajaran-ajaran masih eksis hingga saat ini lantaran manusia masih membutuhkannya, lantaran mereka ‘membawa cahaya’, ‘membawa terang’. Mereka dibutuhkan sebagai pembimbing umat manusia dalam menjalani kehidupannya.

Nah ... sekarang, mari kita berandai-andai. Bagaimana halnya dengan yang telah ‘menjadi cahaya bagi dirinya sendiri’? Apakah arti agama atau ajaran baginya? Masihkah ia membutuhkan ‘terang’ dari agama-agama atau ajaran-ajaran manapun, seperti sebelumnya? Bila tidak, bagaimana kira-kira ia akan bersikap tehadap agama-agama atau ajaran-ajaran itu? Akankah ia mencibir mereka? Akankah ia akan menertawai mereka? Atau, akankah ia malah mempromosikan —baik secara implisit maupun eksplisit, baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi— ajaran atau ‘agama baru’-nya dan mengklaim diri sebagai seorang ‘nabi-nya’? Ataukah ia malah mengasingkan diri, menjauh dari semua hiruk-pikuk serta kepelikan dari apa yang dianggap relijius oleh kebanyakan orang selama ini ?

Yang tampak jelas adalah, seperti apapun beliau menyikapi semua itu, bisa dipastikan itu demi kebaikan dunia dan segenap makhluk penghuninya.

Dasar Tak Tahu Diri !!!


Kita mendambakan kedamaian,
tapi sudahkah kita membukakan pintu hati kita baginya?
Kita mendambakan keharmonisan,
tapi sudahkah kita membukakan pintu hati kita baginya?
Kita mendambakan pencerahan,
tapi sudahkah kita membukakan pintu hati kita baginya?

Inilah sebetulnya beberapa pertanyaan seorang pendamba. Kita umumnya mengharapkan segala sesuatunya datang dari luar, apakah itu berupa anugerah atau kita yang kita sebut dengan rejeki. Pada sisi lain, kita tidak pernah berusaha secara sadar ke arah itu; tidak pernah mengkondisikan agar itu bisa terjadi. Di benak kita, mungkin kita memilih untuk menjadi pengemis saja, asal menikmati kesejahteraan yang sama dengan seorang direktur sebuah perusahaan multi-nasional, kalau ‘profesi’ sebagai pengemis itu tidak dipandang hina di masyarakat.

Bila dikatakan demikian, besar kemungkinannya Anda akan menolak. Anda dengan sengit akan mengatakan, “Tidak...saya tidak berjiwa pengemis.“ Ya...begitulah...bukan saja berjiwa pengemis, kita juga tidak jujur dan tidak mau mengakui kekurangan-diri, tidak mau bermawas-diri, malah sebaliknya selalu mengapusi diri sendiri, sampai-sampai tak mengenali diri lagi, sampai-sampai tak tahu-diri.

Jadi, bilamana ada yang kemudian mengumpat sebagai “Dasar tak tahu-diri...”, sebetulnya kita tak perlu protes, apalagi berang. Sepantasnyalah kita berterimakasih kepada orang yang telah mengingatkan kita itu. Mampukah kita berbuat demikian? Siapkah kita menjadi manusia tahu-diri?

Itu Fitnah !!!


Kurang-lebih tiga-belas abad setelah seorang Nabi mangkat dan naik ke sorga, beliau dipanggil oleh Tuhan.

"Aku menerima kabar kalau kamu telah menulis kitab suci yang berisikan ayat-ayat ajaran, seperti apa yang Ku ajarkan kepadamu itu. Benarkah itu?"

"Ampun Tuhanku .... Semua itu fitnah belaka."

"Fitnah? Mereka malah mengatakan kalau kamulah yang menyebarkan ajaran dan mendirikan agama baru, yang kini banyak pengikutnya di dunia; bahkan banyak pengikutmu itu jadi pengacau dunia. Yang lebih tak bisa diterima lagi adalah," sambung-Nya, "ketika mereka melakukan aksi terornya, mereka terus meneriakkan Kebesaran Nama-Ku. Bagaimana ini?"

"Ini pasti ulah murid-murid dari para sahabat hamba beserta murid-muridnya Paduka. Bukankah Paduka sendiri tahu kalau hamba buta huruf?"

Pandai-pandailah menghargai yang ada !


“Rubahlah pemikiran-pemikiran Anda, bila Anda hendak merubah keadaan-keadaan Anda. Sejauh hanya Andalah yang bertanggung-jawab atas bentuk-bentuk pemikiran Anda sendiri, maka hanya Andalah yang bisa merubahnya. Hasrat Anda untuk merubahnya muncul manakala Anda menyadari bahwa setiap pemikiran mencipta sesuai sifatnya sendiri. Ingat bahwa hukum ini bekerja setiap waktu, dan bahwa Anda selalu berdemontrasi menurut jenis pemikiran-pemikiran yang Anda pertontonkan sebagai kebiasaan. Oleh karenanya, sejak saat ini biasakanlah hanya memikirkan pemikiran-pemikiran yang akan membawakan Anda kesehatan dan kebahagiaan.” ( Sri Paramahansa Yogananda )

Kita umumnya kurang pandai dalam menghargai yang ada, sebaliknya cenderung sibuk mengidam-idamkan yang belum ada. Kekurang-pandaian kita inilah seringkali terekspresikan dalam sikap uring-uringan. Ungkapan seperti “rumput tetangga selalu tampak lebih hijau”, juga merujuk langsung pada fenomena mental ini.

Kendati kecenderungan mengidam-idamkan yang belum ada ini telah menjadikan manusia giat untuk berkreasi, berinovasi, yang sudah barang tentu bermanfaat; tetapi, ia juga telah membuat banyak orang merasa susah, sedih, merasa sengsara, secara tidak proporsional. Ia menghadirkan sejenis kekosongan dalam hati yang merajuk dan mendesak untuk diisi. Dan, dalam suasana batin serupa ini, kenteraman tak akan pernah hadir.

Uring-uringan tidaklah tipikal dan hanya para remaja saja; gejala ini juga diidap oleh banyak orang-dewasa, dalam format dan intensitas berbeda-beda. Padahal, sesungguhnya alam telah menyediakan segala kebutuhan-hidup kita semua secukupnya. Hanya karena keserakahanlah, karena sedemikian banyaknya keinginanlah, kita selalu merasa kekurangan, dan jadi uring-uringan.

Suatu ketika seorang ayah yang hidup sederhana berkata kepada putra-putrinya: “Tak ada lagi yang ayah inginkan di dunia ini, kecuali kebahagiaan kalian” Beliau memang tampak tenteram dan bahagia ketika itu. Namun bersamaan dengan berjalannya waktu, perubahan demi perubahanpun terjadi. Menurut ‘standar’ kebahagiaan yang beliau tetapkan sendiri itu, ternyata salah seorang anaknya tidak bahagia. Beliau jadi murung dan uring-uringan lagi.

Seringkali kedapatan kalau kita semena-mena dalam menetapkan ‘standar’ kebahagiaan. Bahkan, kitapun cenderung terus-menerus meningkatkan ‘standar’ itu. Kenapa? Apa yang sebetulnya terjadi pada diri ini?

Kita sebetulnya tidak mengetahui, tidak memahami apa sebenarnya kebahagiaan itu. Kita umumnya mengukur derajat kebahagiaan orang lain dan juga diri sendiri, hanya dari tampakan luar saja, dari sesuatu yang kasat-indria saja. Yang lebih konyol lagi, kita cenderung mengukurnya dari jumlah harta-benda yang berhasil ditimbun. Sungguh menyedihkan.

Kurang pandai menghargai yang ada, juga telah menjadikan kita tidak pernah merasa puas dan berkecukupan sehingga kurang pandai bersyukur. Bahkan, yang adapun belum benar-benar dinikmati, tapi sudah uring-uringan menginginkan yang lainnya lagi. Padahal, kepandaian ini berperan amat penting didalam menghadirkan ketenteraman dan kedamaian-hati. Hanya dalam hati yang damailah bisa terbit kebahagiaan.

Bilamana Anda tidak bisa berdamai dengan diri Anda sendiri, dengan siapa Anda akan mungkin berdamai? Kedamaian diawali pada batin kita sendiri. Dan kitalah yang sepenuhnya bertanggung-jawab atasnya. Hanya setelah itulah ia terpancarkan keluar, dan akan dirasakan juga oleh orang-orang di sekeliling Anda.

Mereka yang pandai menghargai dan memanfaatkan yang ada, yang bisa merasa puas dan berkecukupan dengan apa adanya, berhati damai dan bahagia. Yoga Vashistha, kitab yogashastra yang tertua di muka bumi ini, menyebut-nyebut shanti dan santosha sebagai penjaga dua pintu-gerbang Kemokshaan, Kemahardikaan. Dimana, bilamana seseorang mengenal dan berteman baik dengan salahsatu saja daripadanya, maka ia akan diperkenalkan juga pada yang lainnya, yang memungkinkan kita akrab dengan semua penjaga gerbang.

Bilamana kita bisa berbahagia sekarang dan di sini, bisa merasa bebas sekarang dan di sini, mengapa mesti menanti untuk menikmatinya nanti dan disana? Mari jauhi sikap uring-uringan itu, dan belajar menghargai dan menikmati yang ada...sekarang...di sini.

Semoga Kebahagiaan menyertai Anda selalu!