Tingkat Pencapaian Spiritual


Ketika kita masuk ke spiritualisme mungkin akan lebih bermanfaat kalau kita bisa memilah tingkatan spiritualime, hal ini untuk lebih memudahkan kita dalam instrospeksi diri kita sendiri dan berikutnya menentukan arah perkembangan pengembangan spiritualisme kita. Untuk hal tersebut saya lebih suka membagitingkatan perkembangan spiritual dalam level/tingkat, dan level dalam kepemimpinan situasional cocok untuk diterapkan dalam spiritualisme dimana guru spiritual (baik fisik/non fisik maupun pribadi) menyesuaikan dengan 'kematangan spiritual' penekunnya.

Level I: Untuk manusia yang tidak tahu ilmu spiritual dan tidak mau menekuni spiritualisme diterapkan metode 'telling/directing/perintah' yang berbentuk ganjaran dan hukuman. kebanyakan orang awam berada disini, yang harus diancam neraka dan diiming-imingi surga untuk beribadah.

Level II: Untuk manusia yang tidak tahu ilmu spiritual tetapi mau belajar atau menekuni spiritualisme diterapkan metode 'selling/coaching' untuk membantu mereka untuk memahami spiritualisme.

Level III: Untuk manusia yang tahu ilmu spiritual tetapi tidak mau menerapkan atau menekuni spiritualisme karena alasan tertentu diterapkan metode 'supporting/ participating' yang membimbing dan memotivasi mereka untuk menerapkan spiritualisme.

Level IV: Untuk manusia yang tahu ilmu spiritual dan menekuni spiritualisme diterapkan metode 'delegasi' yang membebaskan mereka menerapkan spiritualisme. Disini spiritualis biasanya sudah memahami karma dan takdir, dan ego pribadinya sudah menjadi ego kosmik/universal atau selebihnya hingga perilakunya dalam kerangka kosmik/universal.

Yang perlu diketahui ialah bahwa manusia tidak statis dilevel tersebut ada kemungkinan dia mulai berkembang pindah level. Kalau saya perhatikan maka level transisi adalah sebagai berikut:

Level I - Level II: Seseorang yang sudah tidak termotivasi dengan surga neraka tetapi tidak menemukan guru spiritual yang sesuai maka mungkin akan terjebak kepada kondisi agnostik atau atheis. Jadi kondisi atheis atau agnostik sebenarnya tanda bahwa seseorang sudah waktunya untuk naik kelas, Cuma yang bersangkutan belum menemukan kelas lebih tinggi yang mengajarkan spiritualisme dari sebelumnya religiusisme tersebut.
Dengan semakin berkembangnya teknologi informasi dan kemauan untuk berbagi, maka sebenarnya banyak sekali pengetahuan spiritual yang ada diberbagai media. Hal ini sebenarnya bisa menjadi acuan/guru pertama dan sebelum menemukan 'guru' yang sebenarnya untuk kelas yang lebih tinggi tersebut.

Level II - Level III: Seseorang yang sudah mengetahui spiritualisme dalam taraf tertentu tetapi kemudian merasa perkembangannya tidak berkembang sesuai yang diharapkan maka mungkin akan terjebak kepada kondisi macet/frustasi/mentok karena tidak menemukan guru yang mengajarkan pengetahuan yang lebih tinggi yang diharapkannya atau tidak menemukan pengetahuan spiritual yang lebih tinggi.
Disini yang bersangkutan harus sadar bahwa belajar spiritualisme adalah kewajiban pribadi dimana harus dikembangkan kemauan dan pengembangan kompetensi secara mandiri.

Level III - Level IV: Pada level ini seseorang sudah cukup mapan baik kemauan maupun kemampuan spiritualismenya, tetapi yang bersangkutan mungkin terjebak kepada kecenderungan jenis spiritual yang salah yaitu kecenderungan kepada kekuatan (spiritual power).
Ada dua jenis basis spiritualisme yaitu yang berbasiskan kesaktian (spiritual power) dan berbasiskan kemurnian (spiritual level). Pada spiritualisme berbasis spiritual power maka sang penekun tertarik kepada hal ajaib seperti kekuatan-kekuatan gaib sehingga semakin tinggi spiritualismenya akan semakin tinggi kesaktiannya (power) dan juga egonya. Pada spiritualisme yang berbasis kemurnian (spiritual level) semakin tinggi levelnya maka semakin murni dalam rangka penyatuan dengan Illahi dan semakin rendah ego pribadinya.
Disini manusia harus sadar bahwa spiritualisme sebenarnya tidak hanya menyangkut duniawi tetapi juga karma sesudah kehidupan, bahwa 'no free lunch' (ganjaran timbal balik) untuk kekuatan spiritual yang pernah digunakan. Dan disini manusia harus mulai menemukan karma dan takdirnya pada kehidupan ini.